MASTER PUDING

Bahan powder untuk Puding : Puding Cokelat Rp. 35.000 dan Puding Susu Rp. 35.000 (jadi 2.5 kg)

MASTER MILK TEA

Bahan Baku Milk Tea Rp. 60.000/kg (utk 42 cup small, Rasa : Hazelnut Chocholate, Taro Milk Tea,Matcha Milk Tea. Topping : Jelly Plain, Rp. 20.000 (jadi 2.5 kg), Puding Susu, Rp. 25.000 (jadi 2.5 kg), Cincau, Rp. 20.000 (jadi 1 kg)

BOTOL DAN CUP 130 ML

Botol TG 727 ukuran 130 ml ex Thailand dan Tutup. Cocok utk minuman sarang burung walet, selai dan bumbu botolan

FRANCHISE 2015

Mau usaha crepes, bubble tea, snack gorengan, dll? YELLOVER menyajikan konsep yang menyediakan semuanya dalam satu store

BAHAN BAKU PANGAN

Anda perlu Matcha Powder, Green Tea Powder, Black Tea Powder, Creamer dall... Kontak kami

Rabu, 02 Maret 2016

CHURROS

churro is a fried-dough pastry—predominantly choux—based snack. Churros are popular in SpainFrance, the Philippines,PortugalIbero-America and the Southwestern United States. In Spain, churros can either be thin (and sometimes knotted) or long and thick. They are normally eaten for breakfast dipped in champurradohot chocolate or café con leche.

History[edit]

The origin of churros is unclear. One theory is they were brought to Europe from China by the Portuguese. The Portuguese sailed for the Orient and, as they returned from Ming Dynasty China to Portugal, they brought along with them new culinary techniques, including modifying the dough for youtiao, also known as Youzagwei in southern China, for Portugal. However, they modified it by introducing a star design because they did not learn the skill of "pulling" the dough (the Chinese Emperor made it a capital crime to share knowledge with foreigners). As a result, churros are not "pulled" but rather extruded out through a star-shaped die.[1]
Another theory is that the churro was made by Spanish shepherds, to substitute for fresh bakery goods. Churro paste was easy to make and fry in an open fire in the mountains, where shepherds spend most of their time.[2][3]

Preparation[edit]

File:Churro-Vendor.ogg
street vendor in Colombia making churros
Churros are fried until they become crunchy, and may be sprinkled with sugar. The surface of a churro is ridged due to having been piped from a churrera, a syringe with a star-shaped nozzle. Churros are generally prisms in shape, and may be straight, curled or spirally twisted.
Like pretzels, churros are sold by street vendors, who may fry them freshly on the street stand and sell them hot. In Spain and much of Latin America, churros are available in cafes for breakfast, although they may be eaten throughout the day as a snack. Specializedchurrerías can be found in the form of a shop or a trailer during the holiday period. In addition, countries like PeruVenezuela andColombia have churrerías throughout their streets. In Portugal, they are commonly eaten at carnivals, fairs and other celebrations, where they are made freshly at street stands.
The dough is a mixture of flour, water and salt. Some versions are made of potato dough.

Variations[edit]

In Seville (Andalusia), the name "calientes" or "calentitos de rueda" is sometimes used instead of the word churro. These tend to refer to the thicker variant, called porra in northern Spain, the Basque Country and other regions. Calientes are usually fried in the shape of a continuous spiral and cut into portions afterwards. The center of the spiral is thicker and softer, and for many a delicacy in itself. The standard "churro" is also sold under the name "calentitos de papas", the name referring to the softer mashed potato–like texture.[4][5][6]
In parts of Eastern Andalusia, a much thinner dough is used, which does not allow for the typical ridges to be formed on the surface of the churro. The final result therefore has a smooth surface, and is more pliable and of a slightly thinner diameter than standard Spanish churros. Another difference is that sugar is never sprinkled on them, because the flavour is not considered suitable.
Filled, straight churros are found in Cuba (with fruit, such as guava), Brazil (with chocolate, doce de leite, among others), and in ArgentinaBoliviaPeruChile and Mexico(usually filled with dulce de leche or cajeta but also with chocolate and vanilla). In Colombia and Venezuela, churros are glazed with arequipe and sweetened condensed milk. In Spain, a considerably wider diameter is used to accommodate the filling. In Uruguay, churros can also come in a savoury version, filled with melted cheese.
Churros in American theme parks and street fairs are most often rolled in cinnamon sugar or other flavored sugars.
An American warehouse club, Costco, is notable for selling churros and they are also featured on the menu at Señor Frog's, the eating and drinking theme entertainment chain.[

Senin, 26 Januari 2015

SIRUP dan Titik Kritisnya

Halal Guide, Sirup, siapa yang tak kenal dengan minuman segar yang kerap disajikan dengan aneka warna-warni itu? Sirup merupakan minuman praktis yang sering disuguhkan di berbagai perjamuan. Selain itu, sirup juga menjadi salah satu hidangan favorit untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Di setiap rumah Muslim, setiap bulan Ramadhan hingga Idul Fitri, sirup hampir selalu ada.

Bahkan aneka minuman dengan campuran sirup biasanya menjadi minuman istimewa saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Rasanya kurang pas jika berbuka puasa tidak meminum minuman segar tersebut.

Di hari raya Idul Fitri, sirup juga menjadi hidangan minuman pilihan. Selain praktis dalam  menghidangkan, sirup juga mudah diperoleh di warung-warung sekitar rumah.

Karena sangat digemari dan beredar di warung-warung dan supermarket, maka sebagai Muslim hendaknya perlu mencermati titik kritis haram yang mungkin terkandung di dalam olahan sirup. Seperti layaknya produk olahan, sirup juga memiliki titik kritis keharaman yang perlu diwaspadai.

Titik Kritis Haram

Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia, (LPPOM MUI), Ir. Muti Arintawati mengatakan, bahan terbesar produk sirup adalah air. Namun, untuk membuat sirup diperlukan bahan-bahan lain yang harus ditambahkan, agar sirup terasa semakin enak, segar, dan menarik dari segi penampilan.

Muti Arintawati menjelaskan, bahan-bahan tambahan yang terkandung dalam sirup biasanya terdiri dari gula, garam, konsentrat buah, pewarna, flavor, penatur keasaman, pengawet, stabilizer, dan pemanis buatan. Mengingat banyaknya bahan tambahan yang terkandung di dalam sirup, Muti Arintawati berpesan agar konsumen Muslim senantiasa berhati-hati, karena sirup juga mengandung bahan-bahan yang dianggap mempunyai titik kritis keharaman.

Bahan seperti gula, konsentrat buah, flavor, serta pengatur keasaman, dan pemanis buatan memiliki titik kritis keharaman yang perlu diwaspadai setiap konsumen muslim.

Gula misalnya, walaupun berasal dari nabati, status kehalalannya bisa menjadi sumir, bisa halal atau haram. Dalam istilah fiqihnya disebut syubhat. Sumber bahan baku gula adalah tebu atau bit. Namun di dalam proses pengolahannya hasil ekstrak tebu atau bit yang halal tersebut bersinggungan dengan bahan tambahan lain yang mungkin tidak halal.

Hal ini lebih banyak terjadi pada gula yang mengalami proses pemutihan. Dalam dunia industri, gula jenis ini disebut gula rafinasi. Titik kritis keharaman dari gula rafinasi terletak pada proses [I]refinery[/I], yakni tahap proses yang menggunakan bahan tertentu dalam memutihkan gula tersebut.

Bahan yang dianggap bermasalah dalam proses pemutihan ini adalah penggunaan arang aktif. Dari aspek bahan, arang aktif bisa berasal dari tempurung kelapa, serbuk gergaji, batu bara, atau tulang hewan. Jika menggunakan bahan-bahan nabati, maka tentu tak perlu diragukan kehalalannya. Namun jika arang aktif tersebut berasal dari tulang babi, jelas gula tersebut menjadi haram. Sedangkan jika arang aktifnya berasal dari sapi, maka harus dipastikan bahwa sapi tersebut disembelih secara syariah.

“Jadi titik kritis keharamannya adalah tulang hewan. Sebab apa pun yang berasal dari hewan, kalau untuk dikonsumsi harus dipastikan berasal dari hewan halal dan disembelih sesuai syar’i, tentu saja termasuk tulang di dalamnya,” tegas Muti Arintawati.

Bahan lain di dalam sirup yang harus dikritisi adalah adanya konsentrat. Konsentrat buah merupakan bahan tambahan untuk menambah rasa sirup sehingga mirip atau sama dengan buah tertentu, misalnya jeruk, jambu, mangga, atau lainnya. Sepintas, konsentrat buah ini memang tidak akan bermasalah bila dilihat status kehalalannya. Tetapi walaupun berasal dari buah, konsentrat pun bisa jadi menggunakan bahan penolong yang tidak jelas status kehalalannya.

Untuk membuat konsentrat buah agar tidak keruh, misalnya, diperlukan bahan penolong seperti enzim atau gelatin. Kalau berbicara enzim, maka yang harus dipastikan adalah sumber enzimnya, apakah berasal dari tumbuhan, hewani, atau mikrobial.

Jika enzim tersebut diperoleh dari enzim yang diolah secara mikrobial, maka harus dipastikan menggunakan media yang bebas dari bahan haram dan najis. Jika penjernih sirupnya menggunakan gelatin, maka harus dipastikan bahwa gelatin tersebut berasal dari sumber yang halal. Karena didalam dunia industri, bahan baku gelatin berasal dari tulang dan kulit hewan. Masalahnya, gelatin yang digunakan di Indonesia kebanyakan berasal dari luar negeri.

Jadi, gelatin halal amat terbatas. Karena seperti yang sudah dijelaskan di atas, setiap bahan yang berasal dari hewan, maka harus dipastikan berasal dari hewan halal dan disembelih secara Islami.

Selain ditambahkan konsentrat buah, rasa sirup tersebut juga berasal dari perisa (flavor). Tanpa zat-zat tersebut, maka bisa dibayangkan betapa sulitnya produsen sirup untuk memproduksi sirup jika perasa buahnya berasal dari buah-buahan segar. Sebab, buah-buahan segar tidak selalu ada karena sifatnya yang musiman.

Faktor standar rasa juga bermasalah, jika menggunakan buah segar. Oleh karena itu, rasa buah menjadi standar jika produsen menggunakan perisa buah tertentu dengan takaran tertentu pula. Yang menjadi masalah, perisa buah yang dibuat secara industri kadang-kadang unsur buahnya tidak terdapat di dalam flavor tersebut. Bahkan perisa buah bisa berasal dari sintesa bahan-bahan kimia tertentu, yang harus dikritisi pula status kehalalannya.

Selain itu, pengatur keasaman juga bisa bermasalah dari aspek kehalalan. Salah satunya adalah asam sitrat. Karena asam sitrat merupakan produk mikrobial, sehingga diproses secara mikrobial pula. Produsen bahan ini harus menggunakan media pertumbuhan mikroba yang bebas dari bahan haram dan najis.

Bahan lain yang juga mengundang tanda tanya dari aspek kehalalan adalah pemanis buatan. Pemanis buatan yang bisa bermasalah adalah aspartam. Pemanis buatan ini terdiri dari dua asam amino yakni fenilalanin dan asam aspartat.

Karena biasanya dua asam amino ini juga diolah secara mikrobial, maka tentu harus memenuhi persyaratan halal produk mikrobial. Jadi, untuk menghindari mengonsumsi sirup yang tidak jelas kehalalannya, maka konsumen sebaiknya mengonsumsi sirup yang sudah bersertifikat halal MUI.

Sebagai Muslim, memperhatikan kehalalan setiap produk yang hendak dikonsumsi merupakan sebuah keharusan. Begitu juga sebelum menentukan pilihan untuk mengonsumsi sirup.

Kabar baiknya, saat ini telah banyak produk sirup yang telah bersertifikat halal MUI. Hanya dengan memperhatikan logo halal MUI pada kemasan sirup yang hendak dibeli, InsyaAllah kita terbebas dari produk makanan dan minuman yang tidak terjamin kehalalannya. (FM).


(Sumber: Jurnal Halal)

Kamis, 15 Januari 2015

Flavor for Snack Products

Foodreview, Jenis makanan ringan simulasi adalah makanan ringan yang terbuat dari tepung pati-patian (serealia, umbi-umbian)  dengan pencampuran bahan lain, dibentuk atau dipotong, dijemur atau dikeringkan atau langsung digoreng atau dipanggang. Produk ini tidak termasuk keripik kentang, keripik singkong atau keripik umbi-umbian lainnya. Camilan lainnya terbuat dari umbi-umbian yang digoreng langsung ataupun dipanggang. 

Rasa dari produk akhir snack atau makanan ringan merupakan atribut mutu yang paling penting. Tujuan pemberian perisa atau flavor dalam bentuk seasoning adalah untuk memberikan produk yang konsisten pada customer.  Sebagian besar makanan ringan diberi rasa asin, di mana garam merupakan pemberi rasa yang paling murah dari bahan lainnya. Biasanya konsentrasi garam pada makanan ringan berkisar antara 1.5-2.0%.

Selain flavor atau perisa, komponen dari bubuk seasoning untuk makanan ringan atau snack terdiri dari garam, rempah-rempah, penambah rasa atau flavor enhancer, carrier seperti dekstrin, tepung whey, pati singkong, dan lain-lain Pada Gambar 1 ditunjukkan piramid seasoning dan contoh komposisi seasoning untuk dry powder coating maupun oil slurry coating.  

Metode aplikasi bumbu pada makanan ringan
Makanan ringan modern yang banyak diproduksi oleh industri pangan terdiri atas “extrusion” atau hasil proses ekstrusi, “sheeted dough” atau adonan yang diaduk lalu dibuat lembaran dan dicetak untuk menjadi pellet kering, “tuber plant chips” yang merupakan hasil goreng dari  umbi-umbian yang diiris tipis seperti keripik kentang dan singkong dan yang terakhir adalah kacang-kacangan.  Pada Gambar 2 ditunjukkan proses produksi makanan ringan.
  
Secara umum proses terakhir sebelum makanan ringan diberi pelapisan bumbu atau ‘coating’ biasanya adalah proses penggorengan dengan minyak atau proses pengeringan dengan udara panas atau dengan media pasir atau garam sebagai penghantar panas.

Kandungan minyak pada makanan ringan yang dibuat melalui proses penggorengan biasanya berkisar antara 15-40%.  Setelah digoreng, biasanya makanan ringan ditiriskan untuk mengurangi minyak goreng  kemudian diikuti dengan proses ‘coating’.  

Sisa minyak pada permukaan makanan ringan, akan memudahkan penempelan bubuk seasoning pada hasil penggorengan tersebut.  

Oleh karena itu makanan ringan hasil penggorengan hanya memerlukan bumbu seasoning yang berbentuk bubuk dan proses coating dilakukan dalam drum yang bersifat batch coating pan atau continuous horizontal coating drum.  Pada umumnya, pellet yang digoreng mempunyai densitas kamba yang lebih berat sedangkan pellet yang dikeringkan dengan oven mempunyai densitas yang lebih tinggi atau kamba karena mengandung banyak rongga udara. Semakin rendah densitas dari makanan ringan tersebut, maka semakin tinggi aplikasi seasoning yang diperlukan untuk memberi rasa yang merata.  Untuk produk kacang-kacangan dengan densitas yang cukup tinggi, maka bumbu seasoning diaplikasikan pada komposisi 3-5%.

Penggunaan minyak pada proses penggorengan dapat  memperkaya aroma dan menambah rasa gurih.  Namun jika penanganan minyak goreng pada proses penggorengan tidak baik, maka proses ketengikan pada minyak goreng dapat memberi efek negatif terhadap masa simpan dan rasa dari makanan ringan tersebut.
Pelapisan pada makanan ringan dengan proses akhir pengeringan, memerlukan media minyak untuk mensuspensikan bubuk seasoning sehingga bisa melapis hasil ekstrusi dengan permukaan yang luas secara merata.  Selain itu suspensi minyak akan membantu penyerapan seasoning ke dalam pori-pori makanan ringan tersebut.  Minyak goreng juga menambah kegurihan dan lubrikasi dari tekstur yang kering.  Jenis pelapisan ini disebut dengan “oil slurry” karena suspensi bumbu dengan minyak yang berbentuk seperti lumpur dengan sifat alir yang lancar sehingga bisa dipompa melalui nozzle alat penyemprot.

Komposisi oil slurry ini berkisar antara 30-50% dari berat makanan ringan ekstrudat yang akan dilapisinya tergantung dari konsentrasi rasa yang terdapat dalam slurry tersebut; sedangkan komposisi seasoning bubuk di dalam minyak adalah 20-40%.  Flavor yang digunakan sebaiknya bersifat larut lemak agar mudah terdistribusi rata oleh minyak yang melapisi seluruh permukaan makanan ringan.

Jenis pelapisan atau coating pada kacang-kacangan yang lain adalah larutan bumbu dalam air dengan bantuan pati untuk melekatkan bumbu pada kacang setelah hasil pelapisan dikeringkan pada oven (lihat Gambar 2).

Tren flavor pada seasoning makanan ringan
Konsep makanan ringan sebagai camilan adalah ‘tidak berhenti makan sampai potongan terakhir’ berarti rasa yang diaplikasikan harus bisa memberikan rasa yang tidak membosankan, serta memberi rasa ketagihan untuk makan terus.  Rasa makanan ringan yang banyak beredar di Indonesia dapat dibagi menjadi 5 kategori besar yaitu rasa asli (biasanya untuk bahan dasar yang ingin ditonjolkan rasa aslinya seperti keripik kentang dan keripik singkong), rasa daging sapi, rasa daging ayam, rasa keju dan rasa makanan laut atau seafood.  

Keempat rasa yang terakhir seringkali dikombinasikan dengan bumbu-bumbu kuliner tertentu seperti bawang merah, bawang putih, barbecue dan lada hitam. Sedangkan untuk makanan laut, rasa rumput laut atau seaweed masih merupakan rasa yang paling umum dan bisa diterima oleh konsumen Indonesia walaupun rasa rumput laut ini diadopsi dari rasa makanan ringan yang banyak terdapat di Jepang atau Korea.

Scott Harris, bagian pemasaran dari sebuah perusahaan flavor membagi faktor penentu dari flavor makanan ringan menjadi 5 bagian, yaitu : 1) Ethnic atau kesukuan, 2) kembali ke dasar, 3) kesehatan, 4) teknik penyampaian flavor atau perisa, dan 5) mengkombinasikan rasa manis pada flavor savory atau asin, gurih dan berbumbu.
Pada beberapa negara, rasa-rasa ethnic tertentu yang dikenal dan disukai dari masakan daerahnya seringkali diaplikasikan untuk makanan ringan, seperti Szechuan Beef dari Cina, Mediteranean Shrimp yang diwarnai oleh rasa minyak zaitun, rasa Tom Yum dari Thailand, dan sebagainya.  Rasa-rasa tersebut diambil dari rasa masakan tradisional di negara-negara tertentu dengan mengkombinasikan rasa dasar flavor tertentu, seperti rasa daging bakar dengan sensasi bumbu-bumbu yang dipakai dalam makanan tersebut.

Produk keripik kentang di Amerika sudah banyak kembali ke cara proses yang lama seperti slow cook di mana proses produksi menggunakan cara menggoreng dengan suhu rendah dalam waktu yang lama dan kondisi vakum sehingga rasa asli dari bahan baku kentang masih bisa dipertahankan. Cara masak tersebut bertujuan akhir untuk mempertahankan gizi yang terdapat pada kentang. Modifikasi dari proses penggorengan modern diubah ke cara yang lama dan praktek ini tergolong kepada kategori “kembali ke dasar”.

Pernyataan komposisi bahan baku pada label produk yang bebas dari bahan baku yang terkesan buatan atau artificial lebih disukai oleh konsumen makanan ringan di negara-negara maju yang sudah bisa membaca dan mengerti informasi pada kemasan dan sudah memahami makanan yang cocok bagi kesehatan masing-masing.  Pernyataan atau klaim-klaim kesehatan seperti rendah lemak, tanpa kolesterol, rendah sodium atau rendah garam dan tidak mengandung trans fat semakin diperhatikan oleh masyarakat di negara-negara maju atau untuk segelintir konsumen dengan problem kesehatan tertentu. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap flavor dan seasoning yang akan diaplikasi pada makanan ringan sehingga diperlukan strategi yang baik dalam mengembangkan komposisi formula seasoning maupun produk akhir makanan ringan itu sendiri.

Dari sisi teknis penggunaan perisa dalam makanan ringan, perlu mempertimbangkan waktu perisa tersebut diharapkan untuk menampilkan sensasinya. Dengan teknik enkapsulasi komponen flavor, maka sensasi rasa yang ditimbulkan dapat diatur waktu ke luarnya berdasarkan saat awal dikunyah, pertengahan maupun memberi sensasi rasa yang sangat lama setelah makanan tersebut dikunyah dan ditelan. Teknik ini baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir setelah teknik enkapsulasi flavor dikembangkan.

Kombinasi rasa savory makanan ringan dengan sensasi manis juga bisa memberikan penampilan rasa yang segar seperti memasukkan rasa buah-buahan seperti nanas yang asam dan manis ke rasa barbeque atau daging bakar. Sedikit sentuhan rasa manis vanila yang dikombinasikan dengan rasa sup ayam dapat bisa memberikan kesan harum. 


Referensi:
Food processing Technology. P Fellows - CRC Press 2000 
Snack food processing. Raymond W Lusas & lloyd W Rooney. CRC Press 2001
Flavorings. Edited by Erich Ziegler & Herta Ziegler. Wiley-VCH 1998
Handbook of Industrial Seasoning. Edited by EW Underriner & friends
Perfumer & flavorist magazine . Scott Harris - 2007

Sumber : Patricia R. Tobing
Technical Director
PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia

(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Mei 2011)

http://foodreview.co.id/preview.php?view2&id=56609#.VLeK3NKUdPs


Cara Membuat Kopi Hitam Espresso Dengan French Press




“French press” ditemukan oleh Attilio Calimani, seorang desainer Italia, pada tahun 1929. French press dikenal juga dengan nama lain seperti press pot, coffee press atau coffee plunger. Di Inggris dan Belanda alat ini disebut cafetiere atau сafetière à piston, yang berarti pembuat kopi.

French press jika dipisahkan dari pegangannya berbentuk tabung kaca dengan saringan pada tutupnya.
Ketika bagian tutup ditekan, maka saringan akan mendorong ampas kopi ke bagian paling bawah. Alhasil, kita akan mendapatkan kopi hitam nikmat tanpa ampas.


Cara membuat kopi dengan French press

Nah sekarang mari kita mulai membuat kopi dengan French press. Gunakan biji kopi yang digiling sendiri sebab cita rasanya akan berbeda. Mesin giling biji kopi manual sudah mudah ditemukan di toko-toko peralatan rumah tangga. Gilinglah kopi kasar-kasar, supaya nanti ampas mudah tertinggal di bawah saringan.

Untuk secangkir kopi, kita membutuhkan 1,5 sendok makan bubuk kopi (atau 15 gram biji kopi) dan 200 ml air mendidih. Tambahkan bubuk kopi bila ingin secangkir kopi yang lebih pekat.

1. Jangan tuangkan semua air mendidih ke dalam French press, tapi tuanglah sedikit dulu dan ratakan ke seluruh permukaan, agar French press menjadi hangat. Ini berguna menjaga agar kopi yang Anda buat nanti tidak cepat dingin.

2. Suhu air yang ideal untuk membuat kopi adalah 90 derajat Celsius, jadi tunggulah beberapa saat setelah air mendidih. Masukkan bubuk kopi ke dalam French press (yang sudah hangat), lalu tuangkan air panas. Lalu aduklah hingga air tercampur merata dengan kopi dan tunggu sekitar 3 menit.

3. Setelah 3 menit, pasang tutup French press dan tekan saringan perlahan-lahan sampai dasar. Dan kita akan mendapatkan kopi hitam tanpa ampas dengan cita rasa yang nikmat.

http://www.mautips.com/makanan/cara-membuat-kopi-hitam-espresso-dengan-french-press.html