Sudah Pernah Nyobain yang ini?

Klik aja : www.noungjelly.com

Dessert Zaman Now

Noung Soft Puding dengan 14 rasa

Hmmmmm

Katanya Noung Soft Puding Lembut dan Lezat

Rabu, 10 Januari 2018

7 Kesalahan Persepsi Tentang Sertifikat Halal MUI

Ketika sebuah produk sudah memiliki sertifikat Halal, setiap muslim tentu akan merasa lega dalam mengkonsumsi produk tersebut. Tapi terkadang, ada kesalahan-kesalahan persepsi yang mengiringi sebuah kehalalan produk.
Berikut akan dipaparkan 7 kesalahan persepsi tentang sertifikat Halal yang banyak beredar di masyarakat.
1. Masa berlaku sertifikat halal 
Banyak yang menganggap jika sebuah brand sudah memiliki sertifikat Halal, maka selamanya akan Halal. Padahal yang benar adalah sertifikat halal MUI hanya berlaku selama 2 tahun. Kemudian sesudahnya harus diperpanjang jika tidak ada perubahan komposisi dan harus di audit ulang jika ada perubahan bahan baku atau prosesnya.
Bahkan di negara lain kebanyakan melakukan ketentuan lebih ketat dengan berlakunya sertifikat Halal yang hanya selama 1 tahun. Sebuah brand yang awalnya memiliki sertifikat Halal bisa saja kemudian kehilangan atau tidak memiliki sertifikat Halal lagi karena di audit berikutnya memuat bahan yang tidak lolos pemeriksaan Halal.
Itulah pentingnya kita selalu teliti mengecek logo Halal pada kemasan, karena brand yang sudah tidak memiliki sertifikat Halal, tentu tidak bisa memasang logo halalnya lagi pada kemasannya.
2. Sertifikat  H alal nasional dan provinsi
Seringkali banyak brand yang mempunyai banyak cabang di daerah namun belum berinisiatif untuk membuat sertifikat Halal secara nasional yang berlaku di semua outletatau biasa disebut SJH (sistem jaminan halal). Biasanya ada beberapa outlet yang berinisiatif untuk menghalalkan outletnya sendiri yang mana kehalalannya hanya berlaku di provinsi tertentu saja.
Namun, kesalahan persepsi yang terjadi adalah ketika sertifikat lokal provinsi tersebut diakui secara nasional. Hal ini menjadi salah kaprah, mengingat kesamaan bahan bukan berarti lantas semua outlet menjadi sama halalnya. Karena untuk memiliki sertifikat Halal nasional, kehalalan bukan hanya dicek dari bahan melainkan proses dan pengemasan/penyajian.
Jadi apabila di outlet lain dalam proses dan penyajian terkontaminasi sesuatu yang tidak Halal, maka sertifikat Halal di outlet provinsi lain tidak bisa menjamin. Karena itulah, suatu brand dengan banyak outlet di sarankan memiliki sertifikat Halal nasional agar menjamin Halal keseluruhan outletnya. Dengan demikian customer akan lebih tenang menyantap di outlet cabang mana saja.
3. Bahan  H alal tidak menjamin  H alal produk
Suatu produk, bisa saja mengklaim vegan atau herbal dengan semua bahan alami yang Halal. Atau mengklaim tidak mengandung babi dan alkohol. Hanya terkadang bisa saja dalam prosesnya terbentuk alkohol sehingga menjadi tidak Halal di konsumsi.
Contohnya adalah bumbu masak angciu, angciu terbuat dari sari tapai beras, tapai adalah makanan Halal namun ketika sudah menjadi angciu produknya akan mengandung alkohol dan menjadi khamr. Karena itu angciu tidak halal dikonsumsi.
Atau ketika dalam prosesnya, produk tersebut berlokasi yang sama dengan produk lain yang mengandung bahan tidak Halal, maka terjadi kontaminasi yang menyebabkan produk menjadi tidak Halal. Karena itulah banyak produk herbal/vegan pun saat ini membuat sertifikat halal pada produknya untuk menjamin kenyamanan konsumen dalam mengkonsumsinya. Jadi sertifikat Halal memang memudahkan masyarakat untuk mencari produk yang Halal dari hulu hingga ke hilir.
4. Varian  H alal tidak menjamin keseluruhan  H alal.
Umumnya hal ini terjadi pada brand dengan banyak varian produk. Seperti misalnya kosmetik, adanya sertifikasi Halal pada beberapa variannya seperti pada lipstick atau skincare tidak menjamin semua produk yang berada dibawah brand yang sama akan menjadi Halal, karena terkadang dalam satu brand ada produk yang didaftarkan sertifikasi Halal dan ada pula yang tidak.
Begitu pula makanan yang ada di restoran, bisa saja yang Halal hanya saus tomatnya atau kopinya saja dan tidak serta merta restorannya memiliki sertifikat Halal. Melainkan hanya produknya yang terlampir saja yang sudah pasti halal.
Pernah juga terjadi pada brand bakery, ternyata pada bakery tersebut hanya varian rotinya yang Halal, sedangkan pada cake-nya masih menggunakan rhum pada pembuatannya, sehingga untuk produk cake dipastikan tidak termasuk produk Halal meskipun untuk varian roti sudah memiliki sertifikasi Halal.
5. Kosmetik  H alal, semua sah untuk berwudhu?
Dalam kosmetik Halal, yang di halalkan adalah produknya, bukan berarti menghilangkan sifat produknya. Hal ini berlaku untuk segala produk waterproof. Seperti misalnya kutek dan maskara. Secara produk, bisa saja produk ini sudah memiliki sertifikat halal. Tapi tetap saja dikarenakan sifatnya adalah waterproof, air tidak bisa menembus kulit ketika berwudhu. Walaupun tidak masalah jika digunakan beribadah.
Solusinya mudah, misalnya dengan menggunakan kosmetik yang bisa di tembus air wudhu, menggunakan make up yang luntur ketika terkena air sehingga mudah untuk berwudhu. Atau bisa pula dengan menghapus make up terlebih dahulu sebelum berwudhu.
6. Zero alkohol =  H alal?
Sekarang marak produk mengklaim zero alkohol. Hal ini dikatakan untuk memfasilitasi mereka yang ingin merasakan minuman yang sedianya beralkohol agar bisa dinikmati tanpa mabuk. Sesuai dengan peraturan MUI,  produk yang namanya menyerupai yang haram maka tidak bisa diberikan sertifikat Halal.
Ketika akan memeriksa kehalalan suatu makanan dan kosmetik, jika tidak tertera logo Halal. Biasanya orang akan melakukan cek pada bahan baku yang tertera di kemasan. Biasanya yang di curigai hanya yang jelas tertera kandungan babi seperti procine, swine, pork atau boar. Atau tertera kandungan alkohol atau rhum atau produk beralkohol lainnya.
Padahal kehati-hatian, bisa juga kita cermati melalui bahan lainnya. Seperti pewarna, emulsifier, pemutih, perasa, semua bahan rentan di selusupi bahan tidak Halal. Karena itu pengetahuan mengenai bahan baku Halal itu sangat penting terutama bagi para wanita yang kerap kali berbelanja untuk rumah tangga.
7. Semua produk yang mengandung kode E adalah haram?
Kode E bukan pertanda suatu produk mengandung bahan haram. Karena kode E adalah kode bahan aditif. Dimana bahan aditif untuk produk bisa terbuat dari nabati atau hewani. Untuk hewani sendiri tidak selalu babi, melainkan bisa juga terbuat dari sapi, kambing, atau hewan halal lainnya.
Hal ini pernah terjadi dan menjadi viral ketika suatu produk es krim ternama di Indonesia menulis salah satu bahan mengandung kode E lalu diunggah seorang netizen bahwa produk tersebut mengandung kode E dari babi sedangkan di kemasan tertera jelas logo halal MUI. Hal ini justru akhirnya menimbulkan fitnah, karena banyak yang mengira logo Halal MUI yang dimiliki merk es krim tersebut tidak valid. Padahal di samping kode E sudah tertera tulisan “plant origin” yang berarti terbuat dari tumbuhan dan produk tersebut Halal dikonsumi.
Karena itu, logo Halal sangat memudahkan kita memilah, apakah produk yang akan kita konsumsi benar-benar Halal.
Nah, demikian 7 kesalahan persepsi yang seringkali dilakukan masyarakat yang mengakibatkan kita menjadi agak sulit mendeteksi dan memilah produk Halal. Karena itu sikap hati-hati dan teliti haruslah disertai pengetahuan yang cukup mengenai bahan, aturan dan persepsi-persepsi yang salah sebagaimana di atas tadi.
Semoga artikel ini bisa membantu.
Fan page             :  HALAL CORNER
FB Group             :  http://bit.ly/1SL4wQB
Website               :  www.halalcorner.id
Twitter                 :  @halalcorner
Instagram            :  @halalcorner
Redaksi : RRM / SZB

Sumber : http://www.halalcorner.id/7-kesalahan-persepsi-tentang-sertifikat-halal-mui/

Kamis, 04 Januari 2018

Teknologi Filling

Teknologi hot-fill >< Cool Filling

Ada beberapa kombinasi waktu dan suhu yang digunakan untuk sterilisasi minuman ringan berkadar asam tinggi, namun yang lazim dilakukan adalah pada 185 -190 ° F (85 – 90°C) selama 30 detik. Untuk proses hot filling, botol dan tutup botol dibersihkan cukup dengan hanya menyemprotnya dengan udara karena proses hot filling akan menjadikan wadahnya steril.
Sedangkan untuk proses cool filling setelah produk dipasteurisasi, lazimnya dilakukan pembilasan wadah dengan menggunakan air panas. Air yang digunakan harus layak minum. Jika air yang digunakan tidak memenuhi syarat, bisa ditambahkan sedikit zat pembersih, misalnya kaporit (sodium hipoklorida), akan tetapi botol harus dikeringkan benar supaya sisa kaporit tidak mempengaruhi rasa.
Untuk proses hot fill, wadah, dalam hal ini botol PET, harus tahan terhadap suhu tersebut. Oleh karena itu tidak semua botol PET dapat digunakan untuk proses ini, karena botol tersebut dapat melengkung (collapse) jika mendapat perlakuan suhu tinggi.
Untuk mengatasi hal itu telah diproduksi botol PET tahan panas. Bagian leher adalah bagian yang paling kritis, sehingga dibuat lebih tebal dan diproses secara khusus. Bentuk dari botol PET untuk hot filling juga harus diatur sedemikian rupa dengan diberi “panel” tertentu sehingga keseluruhan botol dapat mengembang dengan baik sewaktu proses pemanasan dan menciut kembali dengan sempurna sewaktu proses pendinginan. Dengan demikian, botol PET untuk hot filling lebih rumit untuk diproduksi, lebih tebal dan lebih mahal dibandingkan dengan botol PET untuk produk yang disterilisasi dengan cara pasteurisasi.
Tantangannya adalah membuat desain botol PET yang lebih ringan tanpa mengurangi daya kerjanya.
Walaupun sekarang ini sudah ada teknologi untuk mengatasi hal-hal tersebut di atas, tetap saja ada keterbatasan dalam aplikasi sistem hot filling ini yaitu tidak semua minuman dapat diproses secara hot filling, contohnya minuman dengan tingkat keasaman yang rendah.
Selain itu formulasi produk juga harus memperhitungkan kerusakan beberapa zat makanan jika diproses dengan suhu tinggi, misalnya vitamin-vitamin dan aroma tertentu. Walaupun demikian, teknologi hot fill lebih sederhana daripada sistem aseptik dan biaya investasi awal juga lebih rendah.
Teknologi aseptik

Teknologi ini adalah teknologi yang paling maju dalam pengisian produk minuman ringan dalam botol PET. Rangkaian peralatan untuk mengisi minuman ringan ke dalam botol PET dengan teknologi aseptik pada prinsipnya terdiri atas:
§  Suatu sistem untuk sterilisasi wadah
§  Suatu sistem untuk sterilisasi tutup botol
§  Suatu mesin pengisi yang mampu mengisi wadah dan menutupnya dalam kondisi aseptik
§  Suatu sistem pengendalian kontaminasi lingkungan
§  Rangkaian sistem proses yang memasok sistem di atas dengan fluida yang diperlukan (nitrogen, udara, air) pada kondisi optimum.
Teknologi aseptik saat ini sudah tidak memerlukan penggunan clean room sehingga prosedur proses pengisian menjadi lebih sederhana. Walaupun investasi yang diperlukan lebih tinggi daripada teknologi hot filling, dengan menggunakan teknologi aseptik produsen dapat memakai botol PET yang lebih tipis dan lebih sederhana daripada botol PET untuk hot filling. Hal ini sangat menguntungkan dari sisi biaya botolnya.
food review

Rabu, 02 Maret 2016

CHURROS

churro is a fried-dough pastry—predominantly choux—based snack. Churros are popular in SpainFrance, the Philippines,PortugalIbero-America and the Southwestern United States. In Spain, churros can either be thin (and sometimes knotted) or long and thick. They are normally eaten for breakfast dipped in champurradohot chocolate or café con leche.

History
The origin of churros is unclear. One theory is they were brought to Europe from China by the Portuguese. The Portuguese sailed for the Orient and, as they returned from Ming Dynasty China to Portugal, they brought along with them new culinary techniques, including modifying the dough for youtiao, also known as Youzagwei in southern China, for Portugal. However, they modified it by introducing a star design because they did not learn the skill of "pulling" the dough (the Chinese Emperor made it a capital crime to share knowledge with foreigners). As a result, churros are not "pulled" but rather extruded out through a star-shaped die.[1]
Another theory is that the churro was made by Spanish shepherds, to substitute for fresh bakery goods. Churro paste was easy to make and fry in an open fire in the mountains, where shepherds spend most of their time.[2][3]

Preparation
Churros are fried until they become crunchy, and may be sprinkled with sugar. The surface of a churro is ridged due to having been piped from a churrera, a syringe with a star-shaped nozzle. Churros are generally prisms in shape, and may be straight, curled or spirally twisted.
Like pretzels, churros are sold by street vendors, who may fry them freshly on the street stand and sell them hot. In Spain and much of Latin America, churros are available in cafes for breakfast, although they may be eaten throughout the day as a snack. Specializedchurrerías can be found in the form of a shop or a trailer during the holiday period. In addition, countries like PeruVenezuela andColombia have churrerías throughout their streets. In Portugal, they are commonly eaten at carnivals, fairs and other celebrations, where they are made freshly at street stands.
The dough is a mixture of flour, water and salt. Some versions are made of potato dough.

Variations
In Seville (Andalusia), the name "calientes" or "calentitos de rueda" is sometimes used instead of the word churro. These tend to refer to the thicker variant, called porra in northern Spain, the Basque Country and other regions. Calientes are usually fried in the shape of a continuous spiral and cut into portions afterwards. The center of the spiral is thicker and softer, and for many a delicacy in itself. The standard "churro" is also sold under the name "calentitos de papas", the name referring to the softer mashed potato–like texture.[4][5][6]
In parts of Eastern Andalusia, a much thinner dough is used, which does not allow for the typical ridges to be formed on the surface of the churro. The final result therefore has a smooth surface, and is more pliable and of a slightly thinner diameter than standard Spanish churros. Another difference is that sugar is never sprinkled on them, because the flavour is not considered suitable.
Filled, straight churros are found in Cuba (with fruit, such as guava), Brazil (with chocolate, doce de leite, among others), and in ArgentinaBoliviaPeruChile and Mexico(usually filled with dulce de leche or cajeta but also with chocolate and vanilla). In Colombia and Venezuela, churros are glazed with arequipe and sweetened condensed milk. In Spain, a considerably wider diameter is used to accommodate the filling. In Uruguay, churros can also come in a savoury version, filled with melted cheese.
Churros in American theme parks and street fairs are most often rolled in cinnamon sugar or other flavored sugars.
An American warehouse club, Costco, is notable for selling churros and they are also featured on the menu at Señor Frog's, the eating and drinking theme entertainment chain.[

Senin, 26 Januari 2015

SIRUP dan Titik Kritisnya

Halal Guide, Sirup, siapa yang tak kenal dengan minuman segar yang kerap disajikan dengan aneka warna-warni itu? Sirup merupakan minuman praktis yang sering disuguhkan di berbagai perjamuan. Selain itu, sirup juga menjadi salah satu hidangan favorit untuk berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Di setiap rumah Muslim, setiap bulan Ramadhan hingga Idul Fitri, sirup hampir selalu ada.

Bahkan aneka minuman dengan campuran sirup biasanya menjadi minuman istimewa saat berbuka puasa di bulan Ramadhan. Rasanya kurang pas jika berbuka puasa tidak meminum minuman segar tersebut.

Di hari raya Idul Fitri, sirup juga menjadi hidangan minuman pilihan. Selain praktis dalam  menghidangkan, sirup juga mudah diperoleh di warung-warung sekitar rumah.

Karena sangat digemari dan beredar di warung-warung dan supermarket, maka sebagai Muslim hendaknya perlu mencermati titik kritis haram yang mungkin terkandung di dalam olahan sirup. Seperti layaknya produk olahan, sirup juga memiliki titik kritis keharaman yang perlu diwaspadai.

Titik Kritis Haram

Wakil Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia, (LPPOM MUI), Ir. Muti Arintawati mengatakan, bahan terbesar produk sirup adalah air. Namun, untuk membuat sirup diperlukan bahan-bahan lain yang harus ditambahkan, agar sirup terasa semakin enak, segar, dan menarik dari segi penampilan.

Muti Arintawati menjelaskan, bahan-bahan tambahan yang terkandung dalam sirup biasanya terdiri dari gula, garam, konsentrat buah, pewarna, flavor, penatur keasaman, pengawet, stabilizer, dan pemanis buatan. Mengingat banyaknya bahan tambahan yang terkandung di dalam sirup, Muti Arintawati berpesan agar konsumen Muslim senantiasa berhati-hati, karena sirup juga mengandung bahan-bahan yang dianggap mempunyai titik kritis keharaman.

Bahan seperti gula, konsentrat buah, flavor, serta pengatur keasaman, dan pemanis buatan memiliki titik kritis keharaman yang perlu diwaspadai setiap konsumen muslim.

Gula misalnya, walaupun berasal dari nabati, status kehalalannya bisa menjadi sumir, bisa halal atau haram. Dalam istilah fiqihnya disebut syubhat. Sumber bahan baku gula adalah tebu atau bit. Namun di dalam proses pengolahannya hasil ekstrak tebu atau bit yang halal tersebut bersinggungan dengan bahan tambahan lain yang mungkin tidak halal.

Hal ini lebih banyak terjadi pada gula yang mengalami proses pemutihan. Dalam dunia industri, gula jenis ini disebut gula rafinasi. Titik kritis keharaman dari gula rafinasi terletak pada proses [I]refinery[/I], yakni tahap proses yang menggunakan bahan tertentu dalam memutihkan gula tersebut.

Bahan yang dianggap bermasalah dalam proses pemutihan ini adalah penggunaan arang aktif. Dari aspek bahan, arang aktif bisa berasal dari tempurung kelapa, serbuk gergaji, batu bara, atau tulang hewan. Jika menggunakan bahan-bahan nabati, maka tentu tak perlu diragukan kehalalannya. Namun jika arang aktif tersebut berasal dari tulang babi, jelas gula tersebut menjadi haram. Sedangkan jika arang aktifnya berasal dari sapi, maka harus dipastikan bahwa sapi tersebut disembelih secara syariah.

“Jadi titik kritis keharamannya adalah tulang hewan. Sebab apa pun yang berasal dari hewan, kalau untuk dikonsumsi harus dipastikan berasal dari hewan halal dan disembelih sesuai syar’i, tentu saja termasuk tulang di dalamnya,” tegas Muti Arintawati.

Bahan lain di dalam sirup yang harus dikritisi adalah adanya konsentrat. Konsentrat buah merupakan bahan tambahan untuk menambah rasa sirup sehingga mirip atau sama dengan buah tertentu, misalnya jeruk, jambu, mangga, atau lainnya. Sepintas, konsentrat buah ini memang tidak akan bermasalah bila dilihat status kehalalannya. Tetapi walaupun berasal dari buah, konsentrat pun bisa jadi menggunakan bahan penolong yang tidak jelas status kehalalannya.

Untuk membuat konsentrat buah agar tidak keruh, misalnya, diperlukan bahan penolong seperti enzim atau gelatin. Kalau berbicara enzim, maka yang harus dipastikan adalah sumber enzimnya, apakah berasal dari tumbuhan, hewani, atau mikrobial.

Jika enzim tersebut diperoleh dari enzim yang diolah secara mikrobial, maka harus dipastikan menggunakan media yang bebas dari bahan haram dan najis. Jika penjernih sirupnya menggunakan gelatin, maka harus dipastikan bahwa gelatin tersebut berasal dari sumber yang halal. Karena didalam dunia industri, bahan baku gelatin berasal dari tulang dan kulit hewan. Masalahnya, gelatin yang digunakan di Indonesia kebanyakan berasal dari luar negeri.

Jadi, gelatin halal amat terbatas. Karena seperti yang sudah dijelaskan di atas, setiap bahan yang berasal dari hewan, maka harus dipastikan berasal dari hewan halal dan disembelih secara Islami.

Selain ditambahkan konsentrat buah, rasa sirup tersebut juga berasal dari perisa (flavor). Tanpa zat-zat tersebut, maka bisa dibayangkan betapa sulitnya produsen sirup untuk memproduksi sirup jika perasa buahnya berasal dari buah-buahan segar. Sebab, buah-buahan segar tidak selalu ada karena sifatnya yang musiman.

Faktor standar rasa juga bermasalah, jika menggunakan buah segar. Oleh karena itu, rasa buah menjadi standar jika produsen menggunakan perisa buah tertentu dengan takaran tertentu pula. Yang menjadi masalah, perisa buah yang dibuat secara industri kadang-kadang unsur buahnya tidak terdapat di dalam flavor tersebut. Bahkan perisa buah bisa berasal dari sintesa bahan-bahan kimia tertentu, yang harus dikritisi pula status kehalalannya.

Selain itu, pengatur keasaman juga bisa bermasalah dari aspek kehalalan. Salah satunya adalah asam sitrat. Karena asam sitrat merupakan produk mikrobial, sehingga diproses secara mikrobial pula. Produsen bahan ini harus menggunakan media pertumbuhan mikroba yang bebas dari bahan haram dan najis.

Bahan lain yang juga mengundang tanda tanya dari aspek kehalalan adalah pemanis buatan. Pemanis buatan yang bisa bermasalah adalah aspartam. Pemanis buatan ini terdiri dari dua asam amino yakni fenilalanin dan asam aspartat.

Karena biasanya dua asam amino ini juga diolah secara mikrobial, maka tentu harus memenuhi persyaratan halal produk mikrobial. Jadi, untuk menghindari mengonsumsi sirup yang tidak jelas kehalalannya, maka konsumen sebaiknya mengonsumsi sirup yang sudah bersertifikat halal MUI.

Sebagai Muslim, memperhatikan kehalalan setiap produk yang hendak dikonsumsi merupakan sebuah keharusan. Begitu juga sebelum menentukan pilihan untuk mengonsumsi sirup.

Kabar baiknya, saat ini telah banyak produk sirup yang telah bersertifikat halal MUI. Hanya dengan memperhatikan logo halal MUI pada kemasan sirup yang hendak dibeli, InsyaAllah kita terbebas dari produk makanan dan minuman yang tidak terjamin kehalalannya. (FM).


(Sumber: Jurnal Halal)