Langsung ke konten utama

Memilih Acidulan untuk Produk Minuman


Bila kita membaca label pangan produk minuman, kita hampir selalu menemukan asam sitrat (natrium nitrat), asam tartarat, atau lainnya yang memiliki fungsi mengontrol pH. Ingridien-ingridien tersebut merupakan acidulan, yang tugas utamanya adalah menurunkan keasaman.

Sebagaimana pernah dibahas dalam FOODREVIEW INDONESIA edisi Oktober 2009, acidulan memiliki banyak kegunaan. Tidak hanya untuk menimbulkan rasa asam atau menghambat pertumbuhan mikroba, tetapi juga fungsi lain. Saat ini, setidaknya ada tujuh jenis acidulan yang banyak digunakan, yakni sitrat, fumarat, laktat, malat, fosfat, dan juga tartarat. Setiap jenis acidulan tersebut memiliki karakter spesifik, sehingga aplikasinya pun bisa berbeda-beda.

Salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh industri pangan, termasuk industri minuman, dalam penggunaan ingridien ini adalah pengaruhnya terhadap rasa dan flavor. Dalam sebuah publikasinya di Food and Beverage Asia, Sortwell (2004) mengungkapkan bahwa acidulan memiliki efek yang unik terhadap rasa dan flavor. Pada Tabel 1 ditunjukkan pengaruh acidulan terhadap rasa dan flavor minuman.

Berdasarkan Tabel tersebut, asam fosfat dan Sodium Acid Sulphate (SAS) memiliki tingkat keasaman yang lebih rendah dibandingkan yang lainnya. Dengan alasan inilah, biasanya kedua jenis acidulan tersebut digunakan untuk minuman berasam rendah yang mengharapkan peningkatan keasaman minimal. Sedangkan garam buffer fosfat dan sitrat memiliki tingkat keasaman yang rendah dibandingkan garam buffer laktat, sehingga keduanya menjadi pilihan terhadap produk yang membutuhkan garam buffer dengan keasaman minimal.
Asam sitrat memiliki tingkat keasaman yang “bright” dan “refresh”, dapat melepaskan tingkat keasaman dengan cepat. Sehingga tidak aneh, dengan sifat seperti itu, sitrat merupakan acidulan primer yang banyak digunakan pada berbagai produk minuman.

Asam tartarat dan fumarat memiliki sifat “astringent” yang lebih kuat dibandingkan yang lain, dan dapat bekerja dengan baik pada produk minuman seperti cranberry dan tamarind, di mana astringency sangat diharapkan. Sedangkan asam laktat memberikan “cream flavor note”, yang cocok untuk minuman berbasis susu dan buah seperti licuados atau smoothies.

Jenis acidulan lainnya, yakni asam malat memiliki keasaman yang lebih persisten (lama) dibandingkan asam sitrat, sehingga bila digunakan bersama aspartam atau sukralosa akan saling melengkapi (karena kemanisannya juga bersifat persisten).

Pada Tabel 2 ditunjukkan aplikasi beberapa jenis acidulan dalam beberapa produk minuman. Dalam tabel tersebut terlihat, bahwa acidulan ternyata tidak hanya bisa digunakan secara single, tetapi juga kombinasi antara beberapa jenis acidulan. Hal ini tak lain, karena kombinasinya dapat meningkatkan intensitas kemanisan pada beberapa produk minuman. Contohnya adalah kombinasi asam sitrat (sebagai acidulan primer) dengan asam malat (sebagai acidulan sekunder).

Penanganan dan penyimpanan

Hampir semua jenis acidulan untuk minuman bersifat sangat larut dalam air, kecuali asam fumarat. Asam fumarat tingkat kelarutannya sangat rendah dan melarut pelan-pelan. Dibutuhkan tekanan yang tinggi untuk melarutkannya. Sifat lainnya yang berbeda adalah, acidulan yang lain bersifat higroskopis, sedangkan asam fumarat non higroskopis. Dari sifat-sifat tersebut, tak aneh jika asam fumarat banyak digunakan pada minuman berbentuk serbuk (baca FOODREVIEW INDONESIA edisi Oktober 2009).

Acidulan lain yang perlu mendapat perhatian adalah asam fosfat. Hal ini tak lain karena sifatnya yang korosif, sehingga diperlukan kehati-hatian dalam penanganannya.

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Bread Improver dan Para Pemainnya

Sebelum tahun 1950, proses pembuatan adonan yang amat populer adalah menggunakan metode sourdough dan sponge and dough yang membutuhkan waktu 12-24 jam dalam proses fermentasi. Proses pembuatan roti di jaman moderen menuntut kecepatan karena waktu semakin berharga dan cakupan wilayah distribusi semakin luas, yang berarti kapasitas produksi semakin besar. Maka proses fermentasi semakin pendek bahkan ada istilah no time dough untuk menjelaskan singkatnya waktu fermentasi. Untuk itu diperlukan bahan yang membantu kinerja pengembangan roti agar maksimal dalam waktu fermentasi yang maksimal yang dikenal dengan nama bread improver. Ada dua alasan utama dalam mengaplikasikan bread improver dalam adonan yang menggunakan yeast, yaitu untuk mendukung kerja yeast dalam memproduksi gas (CO²) dalam masa fermentasi dan menjaga kestabilan kandungan gas di dalam adonan yang berperan juga dalam menentukan cita rasa, kestabilan volume dan shelf life adonan setelah dipanggang. Dalam Bread Improver

Resep Liang Teh & Cara Masaknya

  Bahan bahan liang teh bisa didapatkan di toko obat china yang menjual jamu2 tradisional, jika dijakarta bisa ditemukan didaerah glodok. Biasanya bahan bahan tersebut sudah dalam 1 paket.    Berikut bahan-bahannya untuk membuat Liang Teh : 1. Mesona Palustris (Cincau Hitam/Grass Jelly Drink) / sienchau (xiancao) Ekstrak daun cincau hitam memiliki kandungan senyawa antioksidan yang cukup tinggi yang berasal dari golongan flavonoid, polifenol, maupun saponin. Menurut penelitian (Nurdyansyah dan Widyansyah (2017) yaitu ekstrak daun cincau hitam memiliki nilai IC50 66,67 ppm serta total fenol sebesar 829,7 ppm. Nilai IC50 tersebut membuktikan bahwa tanaman cincau hitam berpotensi sebagai bahan pangan fungsional yang mampu sebagai antioksidasi dalam tubuh akibat paparan senyawa radikal bebas. Berdasarkan review yang berjudul Beneficial Effect of Mesona palustris BL: A Review on Human and Animal Intervention terbukti bahwa cincau hitam memiliki kandungan antioksidan. Selain itu, pangan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KUALITAS AIR

  Air memiliki karakteristik fisika, kimia dan biologis yang sangat mempengaruhi kualitas air tersebut. Oleh sebab itu, pengolahan air mengacu kepada beberapa parameter guna memperoleh air yang layak untuk keperluan domestik terutama pada industri minuman. 1. Faktor Fisika  Faktor-faktor fisika yang mempengaruhi kualitas air yang dapat terlihat langsung melalui fisik air tanpa harus melakukan pengamatan yang lebih jauh pada air tersebut. Faktor-faktor fisika pada air meliputi:   A. Kekeruhan Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan anorganik dan organik yang terkandung dalam air seperti lumpur dan bahan yang dihasilkanoleh buangan industri.   B. Temperatur Kenaikan temperatur air menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut. Kadar oksigen terlarut yang terlalu rendah akan menimbulkan bau yang tidak sedap akibat degradasi anaerobic ynag mungkin saja terjadi.   C. Warna Warna air dapat ditimbulkan oleh kehadiran organisme, bahan-bahan tersuspensi yang berwarna dan