Ternyata prosesnya panjang banget & penuh teknologi. Yuk intip perjalanan si manis ini: 👇
1️⃣ Panen & Giling Tebu 🌾
Tebu dipanen ➡️ dicacah ➡️ digiling. Hasilnya keluar nira tebu (cairan kuning
kecokelatan). Ampasnya? Dipakai lagi buat bahan bakar boiler 🔥.
2️⃣ Pemurnian (Clarification) ⚗️
Nira mentah masih banyak kotoran → dicampur kapur & lewat
proses sulfitasi (SO₂ + kapur) atau karbonatasi. Tujuannya: bikin nira jernih,
putih, dan siap diproses.
👉 Fun fact: karbonatasi hasilnya lebih putih &
rendah SO₂, mendekati kualitas gula rafinasi.
3️⃣ Penguapan (Evaporation) 🌡️
Nira dipanaskan di evaporator biar airnya berkurang → berubah
jadi sirup kental penuh sukrosa.
4️⃣ Kristalisasi ❄️
Sirup dimasak di bejana vakum. Tekanan rendah bikin gula
nggak gosong, kristal gula mulai terbentuk (disebut massecuite).
5️⃣ Pemisahan & Pengeringan 🌀💨
Campuran kristal + molasses dipisahin pakai centrifuge.
Kristalnya dikeringin + didingin supaya nggak lengket & tahan lama.
6️⃣ Quality Check & Packing ✅📦
Gula dicek: warna, kadar sukrosa, kadar air, sisa SO₂, dll.
Kalau lolos standar SNI → siap dipasarkan jadi “gula pasir putih” yang ada di
dapur kita.
📊 Fakta Singkat:
Indonesia punya 59 pabrik Gula Kristal Putih (GKP).
Teknologi sulfitasi masih umum, tapi makin banyak pabrik
upgrade ke karbonatasi biar hasilnya lebih putih & aman.
Warna kristal: sulfitasi ~6–7 CT (agak kuning), karbonatasi
bisa ~3 CT (lebih putih bening).
💡 Kenapa penting?
✔️ Mutu tinggi = lebih aman & menarik konsumen
✔️ Efisiensi pabrik lebih bagus → harga lebih stabil
✔️ Standar SNI wajib → jaminan kualitas buat pasar lokal &
ekspor
🚀 Jadi, tiap kali kamu tuang gula ke kopi, inget aja
ada journey panjang dari kebun tebu sampai jadi kristal putih di sendok kamu!
https://www.linkedin.com/posts/medhicahyono_gula-industripangan-supplychain-activity-7374117210388090880-Wd0e?utm_source=share&utm_medium=member_desktop&rcm=ACoAAAiNud8BzTLx-pxBXPxJ7ez6Z3Ng-KtGh5Q
